Laman

Jumat, 24 Februari 2012


Menurut Prof Dr Gumilar Rusliwa Soemantri, rektor Universitas Indonesia. Sebagai pencinta koi Gumilar mafhum ikan hias tawar dan laut berbeda habitat. Jika bisa hidup berdampingan jelas luar biasa. Bima Saksono, eksportir ikan hias di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pun tak pernah mendengar keduanya bisa hidup bersama di satu akuarium.

Keajaiban' itu dihadirkan di Aquarama 2009 oleh produsen pakan dan aksesori akuarium GEX Corporation asal Osaka, Jepang. Di stannya, GEX memajang kotak kaca berukuran 100 cm x 80 cm x 60 cm yang dihuni aneka ikan hias laut dan tawar.

Segerombol ikan badut dan seekor kuda laut Hippocampus sp berseliweran di antara tiga ryukin dan seekor ranchu yang asyik berenang ria di antara koral artifisial bercorak merah dan tanaman air. Sementara ikan hias tawar lain: gurami hias, platy, dan beberapa ekor guppy hilir mudik di dinding belakang akuarium.

Pemandangan kontras seperti ini tak pelak membuat puluhan pengunjung dan peserta pameran Aquarama 2009 dari berbagai negara silih berganti melongok isi akuarium itu. Singkat kata tak ada ucapan lain yang keluar dari mulut mereka selain kalimat 'luar biasa'. Menurut Mulyadi, ahli kawin suntik ikan hias di Bandung, Jawa Barat, yang ditampilkan stan GEX itu memang anomali. Wajar stan itu menjadi bintang di Aquarama 2009.

Terobosan ini selangkah lebih maju dibandingkan inovasi serupa pada Aquarama 2007. Ketika itu stan H2O Aquarium dari Singapura juga menampilkan ikan hias laut dan tawar di satu akuarium. Namun, sesungguhnya mereka tetap hidup di dua akuarium berbeda. Pada akuarium laut berukuran 3 m x 1 m itu dibenamkan 3 buah akuarium air tawar. Sepintas ikan laut dan tawar seperti berenang bersama saat dilihat dari bagian depan akuarium.




Menurut Yuichiro Miyauchi, staf GEX, kunci teknologi penggabungan dua jenis ikan hias berbeda habitat itu adalah marine treatment yang dikembangkan oleh Yamamoto Toshimasa, dosen dari Okayama University of Science Specialized Training College. Produk itu berupa bubuk putih yang bisa meningkatkan kadar elektrolit pada air tawar. Elektrolit merupakan zat yang mudah terurai dalam bentuk ion-ion. Salah satu ikatan elektrolit yang terkenal adalah NaCl alias garam.


Miyauchi tak bersedia mengungkapkan duduk perkara bagaimana senyawa dalam bubuk tadi bekerja. Namun, saat Trubus mencoba mencicipi sedikit air akuarium yang diberi oksigen terlarut melalui aerator, terasa agak asin alias payau. Data lain yang bisa terungkap adalah pengaruh pemberian marine treatment yang tertuang di selembar kertas dan ditempel di sisi akuarium. Di sana tertulis: bubuk putih, 2 unsur mineral dalam satu boks, pH 7,2 - 7,6, salinitas 7 - 9 ppm, suhu 25?C, dan tidak beracun.

Yang tampak kasat mata, akuarium itu memakai chiller - pendingin--yang suhunya disetel 25?C dan filter biologis. Tak tampak protein skimmer, pengurai amoniak pada kondisi air asin. Sebab itu Takehito Morimoto, staf lain, menyebutkan air perlu diganti setiap 2 minggu. Kesan misterius itu belakangan menjadi gunjingan ramai di berbagai blog pengunjung pasca - Aquarama 2009. Contoh Benny Ng asal Singapura. Di blognya Benny memajang foto akuarium itu dan menyisip komentar, 'Bagaimana caranya?'.

Penelusuran Trubus menemukan fakta mengejutkan. Penyatuan ikan hias laut dan tawar dalam satu akuarium bukan hal baru. Setidaknya itu tampak dari berkas dokumen hak paten yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan nomor paten 3683855 pada 1971 atas nama Tronic Product Inc asal negara bagian New Jersey. Di sana diuraikan langkah-langkah pembuatan larutan yang mampu membuat ikan berbeda habitat itu nyaman hidup bersama.

Larutan itu adalah senyawa organik yang terdiri dari bahan etilen glikol dan propilen glikol. Etilen glikol dikenal sebagai cairan tak berwarna, tak berbau, dan berasa manis serta larut dalam air. Senyawa itu merupakan bahan baku utama industri tekstil, cat, kanvas rem, sampai bahan antibeku. Propilen adalah hasil samping dari pembuatan sabun dan lilin. Ia muncul sebagai reaksi dengan asam lemak dan minyak.

Larutan itu yang dicampurkan dengan campuran air laut dan tawar pada salinitas 12 - 14 ppm. Untuk mendapatkan derajat keasaman sekitar 7,2 - 7,6 seperti terjadi pada akuarium GEX, larutan diberi tambahan 0,75 - 1,5 g garam silikat metal. Silikat metal terdiri atas unsur sodium dan kalium.

Selanjutnya apa yang terjadi di tubuh ikan? Sejatinya cairan dalam tubuh ikan tawar dan laut memiliki salinitas hampir sama meski konsentrasi garam di habitat masing-masing berbeda. Salinitas cairan dalam tubuh ikan laut sekitar 2/5 ppm dari salinitas laut sebesar 33 ppm; ikan tawar 1/5. Agar keseimbangan tekanan terjaga, mekanisme osmosis bekerja di tubuh ikan. Intinya ikan akan mengatur keluar-masuk air di tubuh. Dengan alasan itu pula larutan yang disebut di atas memiliki konsentrasi garam sesuai kisaran salinitas cairan tubuh kedua ikan berbeda habitat, antara 1/5 - 2/5 ppm.



Adaptasi
Menurut Prof Dr Suharsono ikan tawar dan laut dapat dipelihara pada satu tempat. 'Pada ikan laut ini bisa dilakukan pada ikanikan estuarin,' kata kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Ancol, Jakarta Utara. Estuarin merujuk pada ikan-ikan yang hidup di muara sungai. Di sana salinitas lebih kecil sekitar 12 ppm. Di laut salinitas mencapai 33 ppm.


Sebab itu ikan muara seperti bandeng Chanos chanos, ketang-ketang Ogcocephalus radiatus, atau salmon tak sulit hidup meski mereka harus berada di lingkungan dengan salinitas berbeda. 'Sistem osmoregulasi mereka sudah berkembang baik. Jadi kalau disatukan dalam kondisi payau bersama ikan tawar, ikan estuarin lebih tahan, bahkan tanpa proses aklimatisasi,' kata doktor bidang ekologi koral dari Departemen Biologi Universitas Newcastle Upon Tyne di Inggris itu.

Namun, pada kasus clown fish dan kuda laut yang dipelihara bersama-sama ikan hias tawar seperti disaksikan di stan GEX kondisinya agak berbeda. Berbeda karena ikan badut dan kuda laut itu murni hidup di laut, sekitar terumbu karang. Tanpa proses adaptasi sulit rasanya bagi kedua ikan itu hidup di kondisi payau. 'Perubahan salinitas sampai di bawah 26 ppm dapat membuat ikan laut sejati mati,' kata Suharsono. Satu-satunya cara menggunakan ikan laut sejati hasil budidaya. Mereka lebih adaptif karena telah dikondisikan pada salinitas lebih rendah.

Hal senada disampaikan oleh Dra Kadek Ari yang berhasil membiakkan clown fish dan kuda laut di luar habitat asli pada 2008. 'Yang bisa hidup pasti ikan hias laut hasil budidaya,' kata peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung itu. Foto di stan GEX yang dikirim padanya mengungkapkan hal ini. 'Dari warna tubuh clown fish, jelas ini hasil budidaya. Warna ikan lebih muda. Ciri lain ikan terlihat akur bergerombol. Di alam tidak seperti itu,' katanya.

Malah Kadek seperti mengenali ikan badut di akuarium GEX itu. Maklum setelah sukses menangkarkan, Kadek sering mengirimkan ikan badut dan kuda laut ke Jepang. Boleh jadi itu alasan mengapa hanya ikan hias laut clown fish dan kuda laut yang ditampilkan di akuarium GEX. Kedua ikan hias laut itu sudah berhasil dibudidayakan.

Pada ikan hias tawar tak perlu memakai hasil penangkaran. 'Ikan tawar sebetulnya malah nyaman berada di kondisi payau karena salinitas tubuhnya mendekati salinitas lingkungan,' ujar Melta Rini Fahmi SPi, MSi, peneliti Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar di Depok, Jawa Barat. Artinya ikan hias tawar hanya cukup diaklimatisasi agar bisa hidup di kondisi sedikit payau.



Peluang
Kehadiran teknologi penggabungan ikan hias laut dan tawar itu cukup diminati hobiis. Grigorius Tam dari Yunani, misalnya, berharap dapat membeli produk marine treatment sesudah resmi dilepas di pasaran oleh GEX pada Agustus 2009. Grigorius ingin mencoba sekadar bersenang-senang. 'Saya punya sebuah akuarium laut di rumah,' kata pemilik toko perlengkapan ikan hias di Akrapolis itu.


Menurut Jemmy Gunawan di sentra ikan hias Jalan Kartini, Jakarta, teknologi ini memang berpeluang besar disukai hobiis. Pemilik gerai KDC itu merujuk saat ia bereksperimen menggabungkan ikan hias laut seperti balong, kepe-kepe, dan giro pasir, bersama tiga maskoki tossa di akuarium berukuran 60 cm x 30 cm x 20 cm pada 2007. Ini untuk pajangan di tokonya. Hasilnya? Gerai milik Jemmy dibanjiri pengunjung. 'Mereka senang melihatnya, tapi begitu tahu harga filter yang dipakai sampai Rp80-juta, mereka mundur,' katanya.

Syarat harga terjangkau diungkapkan oleh Gumilar. 'Hasil teknologi baru itu akan cepat diterima hobiis bila murah dan ramah lingkungan,' ujar Gumilar. Pun Cecep Hidayat dari Firda Aquarium di sentra ikan hias Jalan Sumenep, Jakarta Pusat, 'Kalau harganya murah pasti diminta,' ujarnya. Toh, inovasi yang ditampilkan oleh stan GEX membuka wawasan bahwa tak ada yang tak mungkin dicoba. Melihat maskoki dan ikan badut berenang bersama di satu akuarium sangat menyenangkan.

sumber: trubus-online.co.id
PROSPEK PRODUKSI IKAN HIAS AIR TAWAR
Menghadapi krisis multidimensi sekarang ini, agroindustri apakah yang untungnya bagus, cepat perputaran modalnya dan aman? Jawabnya, produksi ikan hias air tawar. Komoditas ini untungnya bagus, sebab bisa diekspor. Jalur pasarnya sudah jelas. Tidak perlu lahan luas. Modalnya kecil tapi perputarannya cepat. Aman karena bisa diusahakan di halaman rumah. Yang harus dipertimbangkan masak-masak adalah, faktor ketersediaan air dengan kualitas baik. Di Cibinong, kab. Bogor dan Rancamaya, kota Bogor, ada sentra perdagangan ikan hias untuk ekspor maupun pasar lokal. Di sini kita bisa memperoleh informasi, jenis ikan apa saja yang harganya bagus dan masih berpeluang untuk diproduksi.
Informasi awal ini sangat penting, sebab jenis ikan hias air tawar sangat banyak. Selain ikan yang reproduksinya dengan bertelur biasa, ada ikan yang beranak. Misalnya guppy, velifera, platy dan black moly. Jenis ikan yang bertelur jumlahnya lebih banyak lagi. Ada sekitar 50 jenis ikan dan udang (lobster hias) yang layak dibudidayakan karena pasarnya cukup baik. Termasuk ke dalam kategori ikan bertelur ini antara lain jenis yang popularitasnya sangat tinggi. Misalnya koi, maskoki, cupang, oskar, manvis, diskus, arwana sampai ke louhan yang sekarang mulai menurun popularitasnya. Pilihan jenis ini menjadi lebih penting lagi, sebab satu jenis ikan bisa terdiri dari banyak macam. Misalnya platy. Ada platy koral, platy pedang, platy variegata, sunset platy dll. Dari jenis-jenis ikan hias air tawar tersebut, yang budidayanya sulit dilakukan secara rumahan dengan modal kecil adalah arwana dan koi. Ikan lainnya sangat potensial diusahakan dalam skala rumahtangga.
Lahan yang diperlukan untuk budidaya ikan air tawar tidak perlu luas. Bangunan sementara (bedeng) ukuran 30 m² (5 X 6 m), sudah sangat memadai untuk kegiatan ini. Di sana kita bisa menempatkan bak (semen, fiber atau bahan lain) ukuran 2 X 2 X 0,5 m. sebanyak sekitar 5 sd. 6 buah dan akuarium (dengan raknya) ukuran 0,8 X 0,4 X 0,4 m. juga sebanyak 5 sd. 5 buah. Peralatan yang diperlukan antara lain pompa air, heater (pemanas), filter, aerator dll. peralatan perikanan yang harganya tidak terlalu tinggi. Total modal yang diperlukan untuk mulai produksi ikan hias, paling tinggi hanyalah sekitar Rp 5.000.000,- Dengan catatan usaha tersebut dilakukan di rumah sendiri yang sudah ada listrik, telepon dan air.
Apabila bak semen atau fiber masih dirasakan terlalu mahal, bisa diganti dengan bak darurat dari batu bata atau papan yang dibentuk segi empat, diberi alas pasir yang diratakan dan diberi plastik atau terpal. Ukuran susunan batu bata atau papan, sesuai dengan ukuran bak yang kita harapkan. Bak darurat ini harus dilengkapi dengan pompa sirkulasi air yang dihubungkan dengan filter. Hingga kondisi air dalam bak selalu bersih. Bak-bak pemeliharaan demikian hanya dipergunakan untuk membesarkan ikan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Setelah ikan dipasarkan, bak darurat bisa dibongkar, plastiknya dicuci dan dijemur untuk dipergunakan lagi.
Kalau usaha produksi ikan hias ini akan dilakukan di lokasi khusus, diperlukan lahan seluas sekitar 300 m². Di sini bisa dibangun bak air, bedeng, gudang, sumur, reservoar, rumah karyawan, ruang kerja/kantor dll. Investasi untuk satu unit produksi ikan hias air tawar seperti ini, antara Rp 40.000.000,- sd. Rp 50.000.000,- Dengan catatan, lahannya disewa, bukan dibeli. Seandainya lahan tersebut dibeli, maka nilai lahan tidak dimasukkan ke dalam komponen modal. Baik modal investasi maupun modal kerja. Sebab lahan memang tidak perlu disusutkan, hingga tidak pernah masuk ke dalam komponen biaya produksi. 
Ketersediaan air dengan kualitas baik ini mutlak bagi usaha ikan hias. Air PDAM bisa digunakan, namun memerlukan penyimpanan cukup lama agar kaporit dan bahan-bahan kimia lain berkurang kepekatannya, sebelum digunakan untuk isi bak atau akuarium. Air sumur biasa (sumur pantek, jet pump) juga bisa digunakan untuk budidaya ikan hias.  Namun air ini tetap memerlukan pemeriksaan lab, agar kadar logam serta mineralnya benar-benar aman dan tidak meracuni ikan. Paling ideal tentu saja air dari mataair. Sama-sama air sumur pun, kualitas air Jakarta dan Bogor sangat berbeda. Kualitas air di kota Bogor, jauh lebih baik untuk budidaya ikan hias daripada kualitas air sumur Jakarta.
Selain air, faktor pakan juga akan sangat menentukan sukses tidaknya budidaya  ikan hias air tawar. Pakan memegang peranan penting dalam budidaya ternak dan ikan, karena merupakan komponen biaya tertinggi. Ada dua macam pakan ikan, yakni pakan alami dan pakan buatan. Yang disebut pakan alami antara lain artemia, rotifera, infusoria, kutu air (moina dan daphnia), cacing sutera dan jentik nyamuk. Rotifera, infusoria, kutu air dan cacing sutera, bisa diperoleh dari alam atau dikulturkan (dibudidayakan). Pengkulturan rotifera, infusoria, kutu air dan jentik nyamuk, umumnya menggunakan benih yang diambil dari alam.  Jentik nyamuk jarang dikulturkan, melainkan hanya diambil dari genangan-genangan air. Sementara artemia hanya bisa diperoleh melalui pengkulturan. Benih artemia masih diimpor, meskipun penangkar ikan hias bisa pula mengkulturkannya dengan benih dari hasil pengkulturan sebelumnya.
Pengkulturan pakan alami, dilakukan oleh penangkar ikan hias air tawar dalam akuarium, bak-bak terbuka atau wadah yang lebih sederhana. Misalnya ember plastik. Media pengkulturan disesuaikan dengan jenis pakan alami yang dibudidayakan. Mulai dari lumpur dan pupuk kandang untuk cacing sutera, air laut untuk artemia, kotoran ayam dan bungkil untuk kutu air dan rotifera, jerami padi dengan limbah sayuran untuk infusoria. Dalam budidaya ikan hias air tawar, pakan alami ini masih harus dilengkapi dengan pakan buatan. Sebab pada tahap awal setelah bayi ikan dilahirkan atau menetas (umur 3 sd. 20 hari), maka pakan buatan berupa emulsi paling tepat diberikan. Anak ikan umur kurang dari 3 hari belum perlu diberi pakan, karena cadangan pakan berupa kuning telur dalam perutnya masih tersedia.
Seperti halnya pakan alami, pakan buatan juga terdiri dari beberapa macam. Pertama emulsi yang terdiri dari kuning telur, tepung kedelai, tepung tapioka dan vitamin. Perbandingannya, satu butir kuning telur itik dicampur dengan 40 gram tepung kedelai, 5 gram tapioka dan 1 gram vitamin  B komplek. Bahan ini dilarutkan dalam 200 cc air, dipanaskan dan didinginkan. Emulsi harus langsung diberikan kepada anak ikan dan tidak boleh disimpan lebih dari 10 jam. Cara pemberian emulsi dengan disemprotkan merata di permukaan akuarium. Selain berupa emulsi, pakan buatan juga bisa berbentuk lembaran (wafer), bahan yang dikukus, tepung dan remah.
Wafer dibuat dengan mengoleskan pakan berupa emulsi ke atas wajan panas (tanpa minyak). Emulsi doleskan setipis mungkin sampai mengering berupa lembaran-lembaran. Lembaran wafer ini akan mudah sekali hancur ketika dikerok dan dikumpulkan dalam wadah. Pakan emulsi yang dibuat hari ini, bisa langsung dijadikan wafer agar tidak rusak. Wafer bisa bertahan dalam kondisi baik sampai beberapa hari sebelum diberikan kepada ikan. Kalau disimpan dalam wadah kering dan rapat, wafer bisa disimpan sampai beberapa minggu.
Pakan kukus, berbahan baku kuning telur bebek, tepung ikan, tepung susu, tepung kedelai, tepung terigu, vitamin dan antibiotik. Telur terlebih dahulu dikocok sampai berbusa, baru dicampurkan bahan lain. Adonan ini dikukus sampai menjadi roti. Setelah  masak, roti didinginkan. Sambil menunggu pakan kukus dingin, vitamin B komplek, C serta antibiotik (tetrasiklin) digerus. Pakan kukus yang telah dingin dihancurkan dan dicampur vitamin serta antibiotik. Cara pemberian pakan kukus dengan dilarutkan dalam air, disaring baru dimasukkan ke dalam akuarium. Pakan kukus buatan hari ini, masih tahan untuk disimpan sampai dua tiga hari berikutnya tanpa mengalami kerusakan.
Anak ikan umur di atas 20 hari, sudah bisa diberi pakan pelet buatan pabrik. Namun pelet ini harus dihancurkan terlebih dahulu hingga menjadi tepung. Sampai dengan umur 40 hari, anak ikan diberi tepung pelet halus (40 sd. 70 mikron). Umur 40 sd. 80 hari ukuran tepung dinaikkan lebih kasar (70 sd 100 mikron). Umur 80 sd. 120 hari pelet cukup dihancurkan menjadi remah kecil di atas 120 mikron. Cara pembuatan tepung dan remah pelet adalah, dengan menumbuk atau menggilingnya menggunakan gilingan kopi kemudian mengayaknya. Untuk memperoleh variasi ukuran tepung, diperlukan ayakan dengan  masing-masing ukuran tersebut.
Cara memijah (kawin) ikan sangat bervariasi satu dengan lainnya. Demikian pula dengan cara mengeluarkan telur dan merawat anaknya. Jenis-jenis ikan beranak yang umumnya berukuran kecil, relatif mudah pemijahannya. Sebab mareka akan berpijah sepanjang tahun tanpa musim. Anak-anak yang dilahirkannya akan berkeliaran di sekitar induknya. Mereka harus segera diambil dengan serokan halus untuk dipindahkan ke akuarium pembesaran. Karena mudah pemeliharaannya dan pasarnya cukup baik, maka budidaya jenis-jenis ikan beranak lebih cocok dicoba oleh para pemula berskala kecil.
Jenis ikan bertelur bisa dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan cara mengeluarkan dan meletakkan telur mereka. Pertama, ikan yang meletakkan telurnya dalam cekungan lumpur dan kemudian menimbunnya. Kedua jenis ikan yang menyebarkan telurnya di antara tanaman air. Karena jenis ikan ini sering memakan telur mereka sendiri, maka sebaiknya setelah telur keluar, induk dipindahkan ke akuarium lain. Ketiga jenis ikan yang membangun sarang berbentuk busa. Telur yang dikeluarkannya disimpan dalam gelembung-gelembung busa tersebut. Keempat ikan telur-telurnya menggelantung pada akar tanaman air yang mengapung di permukaan kolam. Untuk jenis ikan ini, akuarium atau kolam pemijahan harus dilengkapi dengan tanaman air apung. Kelima, ikan yang menaruh telur mereka di batu, kayu atau batang-batang tanaman air.
Meskipun variasi jenis dan cara pemeliharaannya sangat beragam, rata-rata ikan hias relatif lebih mudah dibudidayakan untuk skala rumah tangga dibanding ikan konsumsi. Sebab selain teknologinya lebih sederhana, budidaya ikan hias juga tidak memerlukan lahan yang luas. Hingga untuk usaha pokok maupun guna meningkatkan pendapatan keluarga, budidaya ikan hias sangat layak untuk dikembangkan.